Sunday, February 3, 2019

Ngentot Tante dirumah sakit



Cerita ini berawal saat Gue sedang menunggu tante Gue yang dirawat di rumah sakit, Tangannya harus digips, akibat kecelakaan yang menimpanya. Tante Gue terlibat kecelakaan saat dia mengendarai mobilnya. Tangannya yang kiri luka robek akibat terkena pecahan kaca.

Yang Gue rasakan ketika menunggu tante Gue ini ada enaknya juga ada tidak enaknya. Gue ambil contoh saja yang enaknya dulu, saat tante mau pipis, Gue pasti disuruh mengantar ke WC. Karena tangan tante sakit, dia menyuruh Gue untuk membukakan CD-nya dan Gue bisa lihat dgn jelas kemaluannya yang tertutup bulunya yang agak lebat. Dan yang tidak enaknya ketika dia mau buang air besar, sudah deh jangan diteruskan, anda semua pasti tahu apa yang Gue maksudkan.. OK.

Malam itu, Gue sendirian menjaga tante di rumah sakit.

Tiba-tiba tante memanggil Gue, “Doni.., cepet kemari..! Tolong tante ya..?” katanya.

“Ada apa tante..?” kata Gue. Agen Togel

“Perut tante sakit nich.., tolong gosokin perut tante pake minyak gosok, ya..?” katanya sambil membuka selimutnya.

Dan terlihatlah tubuh tante yang molek itu, meskipun dia masih memakai BH dan CD. Tapi samar-samar puting buah dadanya dan bulu kemaluan tante terlihat agak jelas. Melihat pemandangan itu, batang kemaluan Gue menjadi naik. Agar tidak terlihat oleh tante, Gue mencoba merapatkan tubuh bagian bawah Gue ke tepi ranjang.

“Lho Don.., apa yang kamu tunggu..? Ayo cepet ambil obat gosok di meja itu. Lalu gosok perut tante, awas jangan keras-keras ya..!” katanya.

“Ya tante..” kata Gue sambil mengambil obat gosok di meja yang ditunjuknya.

Setelah Gue mengambil obat gosok yang ada di meja, “Yang digosok bagian mana tante..?” tanyaku.

“Ya perut tante dong, masak memek tante.. khan nanti.. memek tante jadi sakit kepanasan.” katanya tanpa merasa risih.

“Akh.. tante bisa aja deh.. benci aku.. uhh..!” kata Gue.

“Ayo dong cepet, tante udah nggak tahan sakitnya nich..!” katanya sambil meringis.

Lalu Gue gosok bagian perutnya yang putih mulus dan berbulu itu. Gue menggosok dgn lemah-lembut seperti ketika Gue sedang menggosok tubuh cewek Gue.

“Ya gitu dong, huu.. enak juga gosokanmu Don. Belajar dimana kamu..?” katanya sambil mendesis.

“Nggak kok tante, biasa aja.” Gue jawab dgn pura-pura.

“Udahlah jangan bohong kamu.. Pasti kamu sering gosokin tubuh cewek kamu ya khan..?” tanyanya mendesak Gue.

“Kan Doni belum pernah gosokin cewek Doni, tante..!” kata Gue pura-pura lagi.

“Sekalian ya Don, pijitin kaki tante, bisa khan..?” katanya manja.

Gue hanya mengangguk dan mulai memijat kakinya yang membuat naik lagi batang kemaluan Gue. Kakinya begitu dingin, mulus dan merangsang Gue.

Lalu, “Sudah tante, capek nich..!” kata Gue.

“Lhoo.., yang di atas belum khan..?” katanya.

“Ah.., tante becanda ah.., Doni jadi malu..,” kata Gue.

“Ayo cepet dong, kamu nggak bakalan capek lagi. Coba deh pijit disini, di paha tante ini. Ayo dong, kamu nggak usah malu-malu, Doni khan keponakan tante sendiri, ayo cepet gih..!” katanya manja sambil menarik tangan Gue dgn tangan kanannya.

Sekarang Gue dapat melihat gundukan bukit kemaluanya yang menerawang dari balik kain tipis CD-nya itu. Wajah Gue langsung berubah merah menyala dgn pemandangan yang indah ini. Tante seperti tidak mengerti apa yang Gue rasakan, dia menyuruh mendekat masuk ke tengah-tengah selangkangannya dan mengambil kedua tangan Gue, meletakkan di masing-masing paha atasnya persis di tepi gundukan bukit kemaluannya.

“Iya di situ Don..,” katanya sambil mencoba melebarkan kakinya lebih lebar lagi.

Gue disuruh memijat lebih ke dalam lagi. Pikiran Gue mulai terganggu, karena bagaimanapun meremas-remas ‘zone eksklusif’ yang sedang terbuka menganga ini mau tidak mau membuat batang kejantanan 
Gue menjadi naik lagi.

Lalu, “Don, kamu udah punya cewek..?” katanya.

“Ya tante..,” kata Gue berterus terang.

“Ngomong-ngomong Doni udah pernah ngeseks sama cewek kamu, belum..?”

“Apa itu ngeseks tante..?” kata Gue pura-pura tidak mengerti.

“Maksudnya tidur sama cewek..” katanya.

“Ngmm.. belum pernah tante..” jawab Gue berbohong.

“Ah masak sih, coba tante lihat dan pegang punyamu itu..?” katanya sambil menarik tubuh Gue agar lebih dekat lagi, lalu dgn tangan kanannya dia meraba gundukan di celana Gue.

“Tante pengen tau kalo anumu bangunnya cepet berarti betul belum pernah..” katanya sambil meraba-raba batang kemaluan Gue lagi.

Entah artinya yang sengaja dibolak-balik atau memang ini bagian dari kelihaiannya membujuk Gue. 

Mungkin karena Gue masih berdarah muda, biarpun sudah terbiasa menghadapi perempuan tetapi kalau dirangsang dalam suasana begini tentu saja cepat batang kemaluan Gue naik mengeras. Kalau sudah sampai di sini sudah lebih mudah lagi buat dia.

“Wihh, besar sekali gundukanmu Don.. boleh lihat dalamnya punyamu..? Ayo bantu tante untuk membuka celanamu..!” katanya tanpa menunggu persetujuan dari Gue, dia sudah langsung bekerja membuka celana Gue dan membebaskan burung kaku Gue.

Memang, waktu batang kejantanan Gue terbuka bebas, matanya setengah heran setengah kagum melihat ukurannya. Terutama kepalanya yang menyerupai helm tentara “NAZI”.

“Bukan main kontolmu Doni.. besar dan keras banget punyamu..” katanya memuji kagum tapi justru melihat yang begini makin memburu nafsunya.

“Tapi masak sih Don, benda seindah begini belum pernah dipake ke memeknya cewek. Kalo gitu sini tante boleh nggak ngerasain sedikit lagi biar bisa tante tempelin di sini.” lanjutnya, lagi-lagi tanpa menunggu komentar Gue, dia dgn sebelah tangan bekerja cepat melepaskan CD-nya.

Terlihatlah hutan kemaluannya yang menggoda itu, lalu dia menyuruh Gue untuk naik ke ranjang dan menyuruh Gue untuk menempelkan kepala kemalua Gue di mulut lubang senggamanya. Di situ Gue disuruh menggosok-gosokkan ujung kemaluan Gue di celah liang senggamanya.

Lalu dgn menggosok-gosokkan sendiri ujung kepala batang kejantanan Gue di mulut lubang senggamanya yang sudah terbuka lebar itu, menambah semakin tegang dalam nafsu diri Gue.

“Ahh.. aduh.., Don.. nikmatnya..,” katanya menjerit geli.

“Udah Don, tante nggak tahan. Sekarang giliran tante bikin nikmat kamu.., ok Gueng..?” katanya menyuruh Gue berdiri.

Lalu dia dgn satu tangannya langsung memegang batang kemaluan Gue dan mulai menjilati seputar batangnya, sambil sesekali mengulum kepalanya.

Beberapa saat kemudian, dia menarik Gue lagi, tubuh Gue berlutut di atas ranjangnya, dan kembali liang senggamanya memperlihatkan celah kenikmatan yang siap untuk Gue masuki. Dalam keadaan seperti itu, Gue betul-betul sudah lupa bahwa dia adalah tante Gue sendiri. Lalu, ujung batang kejantanan Gue mulai .

Gue tusukkan di lubang kenikmatannya yang segera Gue ikuti dgn gerakan maju-mundur, putar kanan-kiri untuk menusuk lebih dalam. Tante sendiri ikut membantu Gue dgn jari-jari tangan kanannya. Dia memperlebar bibir kemaluannya agar semakin lebih terbuka untuk lebih mempermudah masuknya batang kemaluan Gue.

Terus Gue genjot batang kemaluan Gue ke dalam liang kenikmatannya yang indah itu.

Dan akhirnya, “Hghh.., oo.. Donn.. yeess.., oohh..!” dgn erangannya, dia membuka orgasmenya yang juga disusul oleh Gue hanya berselang beberapa detik kemudian.

“Gimana Don rasanya barusan..?” katanya menguji Gue sambil tangannya mengusap, menyeka-nyeka keringat di dada Gue. Cerita Seks dengan Tante

“Aduh tante enak sekali, belum pernah Doni ngerasain yang seperti ini. Tapi tante sendiri, gimana rasanya..?” kata Gue balik bertanya.

“Tante baru sekarang lho ngerasain digituin cowok dgn kelembutan, tapi juga tidak meninggalkan kejantanannya yang perkasa, seperti punyamu ini, ‘Si Buta Dari Gua Memek’, tante jadi melayang ke langit yang ke-7. Ohh.. endangg..?” katanya.

Begitu selesai, Gue diajak tante ke kamar mandi. Dan waktu itu Gue bantu tante membersihkan kemaluannya. Sambil menyiram kemaluan tante, Gue mendekap dia dari belakang, dan tante yang sedang berdiri menjadi kegelian karena batang kejantanan Gue menyentuh bukit pantatnya. Seketika batang kejantanan Gue naik lagi karena yang Gue lihat sekarang lebih terlihat montoknya.

Dan seketika itu, tangan lembut tante memegang batang kemaluan Gue. Gue gemetar karena pengalaman seperti ini luar biasa buat cowok perjaka seperti Gue ini. Buah dada tante menjulang, menantang dan tegar, kelihatan pori-porinya meremang karena udara sangat dingin di kamar mandi, apalagi ini sudah tengah malam. Dan bukit kemaluannya agak merekah merah terbuka bekas perbuatan yang tadi.

Gue tidak tahu harus berbuat apa selain meraba buah dadanya lagi yang kali ini dari depan. Tante menarik Gue dan mencium bibir Gue, Gue menurut saja. Tubuh kami saling merapat. Tangannya terus mengurut-urut batang kejantanan Gue. Dan Gue meraba pantatnya yang bulat dan sintal kencang. Buah kejantanan Gue pun diremas-remasnya pelan-pelan. Kemudian, tante mulai menaikkan kakinya yang sebelah ke atas bak dan dimasukkannya lagi kemaluan Gue ke liang senggamanya. Ngilu dan agak panas terasa di batang kejantanan Gue.

Tante mulai bergoyang maju mundur dan pantat Gue juga ditekannya dgn tangan kanannya agar Gue bisa mengikuti irama. Gue ikut saja menggoyangkan sambil memeluk, mengisap putingnya, mencium bibirnya. Beberapa saat kami bergoyang sama-sama, tapi paha tante mulai pegal rupanya, dan dicabutnya batang kemaluan Gue.

Kemudian dia berbalik dan menungging sambil berpegangan dgn tangan kanannya ke bibir bak mandi. Gue gosokkan batang kejantanan Gue ke bibir kemaluannya. Benar-benar terasa panas bibir kemaluannya itu.

Kemudian Gue mendesak maju dan, “Bless..” Rudal milik Gue masuk bergesek-gesek dgn dinding lubang senggamanya.

Tante juga bereaksi dan pinggulnya berputar seperti penari ular. Aduh luar biasa sekali, Gue merasa keenakan dan tidak bisa berpikir jernih lagi.

Pantat Gue maju mundur, rudal panjang Gue menggaruk-garuk lubang kenikmatannya. Dari posisi ini, 

Gue bisa melihat dgn jelas batang kejantanan Gue basah kuyup dan bibir kemaluan tante tertarik keluar 
masuk. Tangan Gue menjangkau ke depan, meremas buah dadanya yang menggantung besar dan bergoyang menggeletar, nafas tante mendengus desah.

“Ohh.. yess..!”

Akhirnya Gue meledak-ledak lagi dan tante rupanya sudah lebih dulu mengalami orgasme.
Setelah itu Gue mandikan tante Gue tersayang. Mulai detik itu, Gue punya tugas tambahan baru.

Friday, February 1, 2019

Ngentot Cewek Keturunan Arab



Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek baru disana. Aku berangkat dengan seorang Direktur. Setelah bertemu dengan para pejabat yang berwenang dan mengutarakan tujuan kedatangan kami, maka Direktur tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Jakarta.

Tinggalah aku disana mengurus semua perijinan sendirian saja. Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel yang tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman, dan transport untuk kemana-mana relatif mudah. Aku mendapat kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut.

Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputar-putar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut. Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Aku cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadang-kadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security. Mereka heran selama hampir 3 minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau bro, tapi pikiranku masih tersita ke pekerjaan.

Tak terasa sudah 3 minggu aku menginap di hotel. Karena surat-surat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul selama 2 ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya terlalu becek dan sudak kendor, tapi lumayanlah buat mengurangi sperma yang sudah penuh.

Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tiba-tiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.

Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut. Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil duduk-duduk di cafe hotel. 

Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang aku kurang puas dengan permainannya. Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 168 cm, badannya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku. ” Bapak berminat ? Kalau ini dijamin oke, Arab punya,” katanya.

Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.

“Dewi, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini,” kata security itu.

“Aku mau ke karaoke dulu,” balas wanita tadi. Ternyata namanya Dewi. Dewi berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu.

Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana. “Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi,” kata security tadi kepadaku. Aku berjalan dan duduk didekat Dewi. Kuulurkan tanganku, “Boleh berkenalan ? Namaku Jokaw”.

“Dewi,” jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya. Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja. 

Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung.

Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.

“Sendirian saja nona atau …,” kataku mengawali pembicaraan.

“Panggil saja namaku, Dewi,” katanya.

kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Dewi berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. 

Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.

Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja. kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Dewi masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.

Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Dewi seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Dewi tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.

Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, “Mau apa kamu, 

Jokaw ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku. “Ayolah Dewi, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” kataku mulai merayunya.Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.

“Akhh, tidak.. Jangan..,” rintihnya.

“Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”.

Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.

Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos. Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur.

Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya. Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.

Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir . Lubang terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam .

Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang , sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. 

Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai. Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, “Sllruup..”. Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat dalam posisi demikian.

Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang . Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.

Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih “Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang..”. Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang . Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali.

Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus . Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Dewi kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom. Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang .

“Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.

Kepala penisku sudah melewati bibir . Kudorong sangat pelan. sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus. 

Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong . Aku merasa dengan kondisi yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Dewi bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.

Dewi merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. 

Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.
15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Dewi sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.

“Ouhh.. jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku..”.

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Dewipun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. 

Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku. Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. 

Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah. 

Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan. Semenit kemudian..

“Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh,” Dewi memekik.

Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.

“Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!”

Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.

“Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga..”.

Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding saling berbalasan dengan denyutan dipenisku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan. ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari . 

Sebagian sperma mengalir keluar dari di atas perutku. Dewi berguling ke samping setelah menarik napas panjang.

“Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa,” katanya sambil mengelus dadaku.

“Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” kataku balas memujinya.

Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!

“Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?”

“Nggak ah, asli Indonesia lho..”.

Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan.

Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam. Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.

“Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?”tanyaku. Agen Togel

“Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi.

Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” katanya enteng. Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. 

Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku. Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmatisunset. 

Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.

“Hmmhh..,” ia bergumam.

“Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” kataku.

Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.

“I want more, honey!” kataku.

kami bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Dewi di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.

Dewi mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.

Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. 

Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir kubuka.

Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.

“Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw!” ia berteriak.

Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir .

“Jokaw.. Maniak kamu..,” ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.

Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian . 

Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.

Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya.

Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.

Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. 

Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. 

Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri.

Aku duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. 

Dikulumnya penisku dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku. Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.

Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. 

Dewi kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir . Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati.

Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. 

Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya. Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku “Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!”

Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukan penisku kedalam liang . Masih sulit juga untuk menembus bibir . tangannya kemudian membuka bibir dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vagina. Begitu melewati bibir , maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang . Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada lebih banyak. 

Ketika kurasakan sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Dewi masih bergerak pelan, 
bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.

Kupercepat gerakanku dan Dewi bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat. Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam 

Kugenjot lagi dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.

Aku menusuk dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Dewi semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.

Dewi berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot . 

Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya. kami berguling sampai Dewi berada di atasku. Dewi menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.

“Ouhh.. Dewi,” desahku setengah berteriak.

Dewi bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran. Dewi mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.

Dewi bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali.

Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.

Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.

Dewi kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya.

kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Dewi menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku.

Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentak-hentak. darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.

“Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.

“Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu”.

Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.

“Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi!” ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.

Aku bangkit dan duduk memangku Dewi. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.

Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintih-rintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati. Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali. Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis.

Kukembalikan kakinya pada posisi semula. Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi. kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Dewi kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.

Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.

Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, “OK baby, kini saatnya..”.

Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding berdenyut kuat menghisap penisku. 

Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.

Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam . Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam bergantian dengan denyutan pada penisku seakan-akan saling meremas dan balas mendesak.

Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.

“Dewi.. Ouhh.. Yeaahh!!”

“Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!”

Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam . Kutekan penisku semakin dalam di . Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. 

Ketika dinding berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PC-ku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PC-ku kugerakkan.

Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengal-sengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur. Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Dewi menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang laki-laki bernama Jokaw.

Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan sia-sia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua. Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.

“Terima kasih Pak,” katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.

“Kapan kesini lagi, Pak? kalau Dewi nggak ada, nanti akan saya carikan Dewi yang lainnya lagi,” bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara. Dewi mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami. Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternya Dewi tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Dewi berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Tinur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Dewi.

Ngentot dengan Saudara Istriku




ini bermula setahun yang lalu, dimana aku harus jaga rumah, karena anak dan istriku sedang berkunjung ke saudaranya selama lebih dari seminggu.

Sore itu sekitar jam lima sore, teleponku berdering, aku angkat . . . terdengar suara lembut seorang wanita namun dengan background yang lumayan ramai. “Halo . . . , dik Yanti ada”, suara yang sepertinya aku kenal, namun sungguh aku lupa siapa dia, yang lebih membuat aku
bertanya-tanya, dia mencari istriku (Yanti).

Aku pun menjawab apa adanya “Yanti sedang ke Solo, ada yang bisa saya bantu ?”.
“Lho, ini dik Bandi ya . . . aku Arie, dik, aku sedang di terminal Bis , boleh aku mampir ke rumah sebentar?”.

Belum sempat aku menjawab permintaannya, telepon sudah ditutup, dan aku sendiri masih
bertanya-tanya, siapa Arie itu?.

Selang satu jam kemudian, ada sebuah taxi yang berhenti didepan rumah, aku melihat dari arah dalam jendela rumah, seorang wanita muda keluar serta menenteng sebuah tas traveler yang lumayan besar.

Dibawah keremangan sinar lampu jalan, aku mulai bisa melihat wajahnya. Ya ampun ternyata dia adalah mbak Arie, kakak sepupuku. Meskipun dia kupanggil “kakak” tapi dia sepuluh tahun muda dari aku, dia anak budeku, kakak dari ibuku. Tersentak aku dari kekagetanku, manakala dia berusaha
membuka pintu pagar, akupun berlari menyambutnya, menenteng tasnya yang upss ternyata lumayan berat. Kupersilahkan dia untuk istirahat sebentar di ruang tamu, dan kuletakkan traveler bag-nya di kamar depan, yang memang biasanya selalu kosong itu.

Aku bergegas menemui mbak Arie dan mengajaknya ngobrol sebentar.

“Mbak Arie mau kemana?”

“Aku mau ke Bali dik, tempat kerjaku pindah kesana”

Kenanganpun muncul, tatkala aku menatap wajahnya lekat-lekat. Sungguh

ia belum berbeda ketika aku ketemu dia sembilan tahun yang lalu, ketika ia masih kelas tiga SMP!.

Arie adalah gadis yang manis, sekilas ia seperti artis Maudy Koesnaedy.

Tubuhnya yang putih bersih dengan tinggi sedang dibalut T-shirt MCM putih dan celana jeans strecth yang membungkus pinggul dan kakinya yang indah (paling tidak menurutku).

Payudaranya sedang besarnya, padahal dulu lumayan kecil kalau tidak bisa dibilang rata. Aku bisa mengatakan demikian, karena dulu . . . sungguh kenangan ini seperti barusan kemarin
terjadi.

Waktu itu (sembilan tahun yang lalu dan masih bujangan) , aku berkunjung kerumahnya (di sebuah kota besar di Jawa Tengah), selama seminggu aku tinggal dirumahnya yang besar, yang dihuni Bude, mas Bayu (sulung) dan mbak Arie (ragil). Aku sendiri seperti menaruh perhatuan khusus kepadanya. Aku tidak tahu ini perasaan sayang atau hanya sekedar suka saja.

Ia kelihatan bongsor untuk anak seusianya 14 tahun, namun sungguh, ia seperti kekanak-kanakan. 

Sering disaat aku membantunya dalam belajar bahasa inggris, kucium keningnya disaat ia mulai suntuk, untuk memberi semangat supaya giat belajar kembali, namun lama-lama perasaan yang sekedar memberi semangat itupun berubah, aku sering juga mencium kelopak matanya, pipinya dan akhirnya kucium bibirnya disaat ia benar-benar ketiduran di atas meja belajarnya, karena kupaksa untuk menyelesaikan latihan ulangannya.

Kugendong tubuhnya untuk, kupindah ke tempat tidurnya. Mbak Arie tak bergerak sedikitpun, saat kubaringkan di ranjangnya, terlalu capek rupanya. Terkesiap sejenak aku dibuatnya, jantungku mulai berdegup kencang, saat kulihat rok mininya tersingkap keatas. Kontolku mendadak menggeliat bangun.

Kukunci pintu kamarnya, entah dorongan dari mana, ada keinginan untuk mencium memeknya.

Perlahan-lahan kuturunkan celana dalamnya . . . dan terlepas !. Kulihat lekat-lekat memeknya yang tak satupun bulu tumbuh diatasnya . . . sebuah gundukan daging yang mengundang hasratku untuk segera menciumnya.

Kuangkat kedua pahanya, sehingga posisi kakinya membentuk huruf “O”.

Kelentit-nya yang merah muda menyembul keluar.

Akupun menciumnya lembut dan aroma memek seorang perawan yang khas-pun tercium. Kontolku semakin tegang dan sakit, karena posisiku yang kurang menguntungkan. Aku terus mencium dan menjilati naik turun. Lobang vaginanya basah karena ludahku. Sejenak aku kaget, karena mbak Arie mulai menggeliat, aku cepat-cepat menarik selimut untuk sekedar menutupi posisi kakinya.

Namun posisinya tidak berubah sampai ia tertidur kembali . . . seperti bayi. Akupun semakin penasaran untuk mengulangi kembali, kali ini aku tidak saja aku jilati, tapi aku mulai menghisap kelentitnya yang kelihatan semakin memerah, aku seperti kesetanan menghisap yang lainnya. Aku berusaha membuka memeknya dengan kedua ibu jariku, kelihatan lubang memeknya masik kecil dan terlihat nyaris rapat.

Kujilati lubangnya, kuusahakan ujung lidahku menerobos lobang yang sempit itu, sampai pada saatnya
kemudian . . . ia terbangun dalam keadaan aku masih asyik menjilati memeknya.

“Kamu apakan tempikku dik . . .?”

Tenggorokanku seakan tersekat sesuatu, sehingga tidak mampu menjawab, apalagi melihat wajahnya.

Naluriku mengatakan pasti ia benar-benar marah atas kelakuanku tersebut, dan aku tidak tahu, aku harus bagaimana setelah ini, aku hanya bisa menunggu . . . . Sampai beberapa menit kemudian, tangannya meraih wajahku dan mengangkatnya perlahan-lahan, sampai wajahku dan wajahnya berhadap-hadapan.

Sekali lagi dia bertanya

“Diapakan tempikku dik . . . ?”

“Aku sayang mbak Arie . . . maafkan aku mbak” kataku menghiba. Namun keadaan yang tidak kuduga-duga, mbak Arie mencium bibirku.

“Aku sudah merasakannya, sejak dik Bandi menciumku di meja tadi” bisiknya ditelingaku . Akupun langsung melumat bibirnya, tangan kananku berusaha mencari-cari payudaranya yang hanya seperti putting saja .

Akupun menyingkap t-shirt nya untuk mengalihkan ke payudaranya. Kuhisap putingnya, mbak Arie hanya mendesis-desis dan mencengkeram pinggangku erat-erat. Kuhisap bergantian kiri dan kanan putting payudaranya, sampai akhirnya kuhisap kembali tempiknya (demikian ia menyebut memeknya) yang sudah sangat basah. Kuhisap kelentitnya dengan gemas,dicengkeramnya kepalaku, ia menggerakkan bokongnya naik turun, sampai pada saat berikutnya, ditendangnya pundakku keras-keras sehingga bibirku terlepas dari memeknya. Belakangan aku ketahui ia mengalami orgasme yang hebat, sehingga ia tidak bisa lagi menguasai gerakannya.

Kupeluk dia, agar ia segera dapat menguasai dirinya kembali. Demi menjaga perasaannya, akupun berusaha untuk mengeluarkan kontolku yang sudah tersiksa sedari tadi dan kuperlihatkan kepadanya.

Dielus-elusnya kontolku, sambil diamatinya cermat-cermat (mungkin mbak Arie baru melihat kontol yang membesar itu pertama kali), dipermainkannya kontolku sampai digesek-gesekannya ke putting payudaranya, sampai pada saat aku sudah tidak bisa lagi menahan cairan di kontolku muncrat kemana-mana.

Mbak Arie terlihat bergerak sekenanya untuk menghindari.

“Apa itu tadi dik . . . ?”

” Itu spermaku mbak, itu yang bisa membuat perempuan hamil kalau sempat masuk kesini” sambil kuusap memeknya.

Mbak Arie memelukku, akupun menyambutnya dengan mendekapnya erat-erat.

Sejenak kuseka air maniku yang sempat mengenai dagu mbak Arie.

Malam itu aku tidur dikamar mbak Arie, kudekap dengan perasaan sayang, walaupun nafsuku sangat menggelegak untuk berbuat lebih jauh, namun cepat-cepat kutepis saat kutatap wajah lugunya yang tertidur pulas di pangkal lenganku.

Kuciumi wajahnya, kuremas-remas bokongnya yang masih telanjang, ingin rasanya kuciumi memeknya yang mulus tanpa rambut satu helaipun, namun sekali lagi, aku tidak ingin mengganggu tidurnya yang
pulas.

Aku berusaha untuk selalu terjaga, karena aku harus segera kembali kekamarku sesegera mungkin. Aku takut, apabila Bude tiba-tiba saja datang membangunkan mbak Arie.

Jam tiga dini hari aku kembali kekamarku, setelah berusaha mengembalikan celana dalam mbak Arie ketempatnya, namun ia tetap saja tertidur ataupun tidur-tiduran, aku tidak tahu. Kucium lembut bibirnya dan kutinggalkan kamarnya.

Aku bergegas mengepak pakaianku, karena pagi itu aku mendapat interlokal dari kota Malang untuk segera mengurus acara wisudaku. Cukup berat aku meninggalkan kota ini, terlebih pengalaman semalam yang membuatku ingin berlama-lama tinggal.

Bude melarangku pulang sebelum mbak Arie pulang sekolah. Aku berusaha juga untuk tidak mengecewakannya, terlebih karena peristiwa semalam.

Sebentar kemudian mbak Arie pulang, akupun menyambutnya dan kemudian dengan kuusahakan tenang dan teratur, aku berpamitan kepadanya.

“Nggak boleeeh . . . . . .!!!” dia berteriak panjang dan berlari menuju kamarnya. Cukup keras dia menutup pintu kamarnya dan terdengar langsung dikunci dari dalam. Aku tertegun tak bisa berbuat apa-apa, hanya bude kemudian berusaha menenangkan sambil menceritakan kenapa aku harus bergegas pulang hari itu dari luar pintu.

Namun kelihatannya usaha beliau tidak mendatangkan hasil, bahkan tidak ada tanda-tanda mau
membuka kembali pintu kamarnya.

Aku berusaha untuk menenangkan kali ini.

“Mbak . . . ini aku dik Bandi, nanti aku janji deh . . . kalau urusan kampus udah selesai, kembali kesini lagi, janji deh mbak . . . ” kutunggu reaksinya . . . , namun tidak terdengar suara apapun dari dalam
kamar. “Mbak . . . kalau mbak Arie nggak bukain pintu, aku langsung pula lho, soalnya nanti kehabisan bis yang ke Malang”,

kali ini kata-kataku berhasil, terdengar suara kunci membuka pintu kamar, dan begitu pintu
terbuka, tanganku disambarnya dan ditarik masuk kedalam kamar, saat itu bude tersenyum dan meninggalkan kami. Dia langsung memelukku sambil terdengar isak tangisnya.

Kukecup keningnya, kudekap erat tubuhnya.

“Mbak aku janji, nanti aku telepon kalau nanti sampai di Malang, dan aku janji lagi, kalau urusan selesai, kesini lagi . . . yaa”, bisikku sambil meyakinkan. Kulonggarkan dekapanku, ia kelihatannya sudah lebih tenang, kukecup keningnya sekali lagi, dan terakhir kucium bibirnya dengan
lembut.

Semenjak hari itu, dan selama hampir sembilan tahun !, kami berpisah.

Disini aku tidak bermaksud mengingkari janjiku, namun setelah hari wisudaku, ada sebuah kontraktor asing yang sedang mengerjakan mega proyek memanggilku untuk segera bergabung.

Pertimbangan kesempatan, yang membuatku untuk tidak menyia-nyiakan peluang ini. Sampai kemudian aku terlarut dengan kesibukan profesiku.

Tiga tahun setelah itu, aku menikah dengan teman seprofesi, setelah menikmati masa pacaran yang benar-benar bersih selama dua tahun. Akupun tidak lupa waktu itu untuk mengundang mbak Arie.

Menurut buku tamu ia hadir, namun sama sekali aku tidak melihatnya. Sebentuk kado berisi bingkai foto perak yang cantik, dengan tanda tangan dibelakangnya : Arie.

Bunyi peluit teko air, menyadarkanku dari kenangan yang manis tersebut.

“Mbak . . . aku rebusin air untuk mbak Arie mandi, ayo sekarang mandi dulu, biar seger”. Ia tersenyum mengangguk. Aku berusaha sebaik mungkin untuk melayani dia supaya tinggal nyaman untuk sementara di rumahku.

“Ngomong-ngomong, mbak Arie kok tahu nomer teleponku ?” tanyaku sambil menuang air panas ke bath tub. “Iya, aku nanya dulu ke tante Palupi (ibuku), soalnya dari sini khan deket ke Airport”.

Rumahku memang deket sekali dengan airport, tempat transit dia untuk menuju ke Bali, karena dari kota asalnya tidak ada flight langsung ke Denpasar. Semakin cantik kulihat dia sehabis mandi, bath robe pink membalut tubuh yang putih itu semakin kelihatan bersih. Dia kelihatan sedikit berisi, terlihat dadanya yang sedikit montok namun tidak terlalu besar.

Aku berencana mengajak makan malam keluar, karena semenjak istriku keluar kota aku jadi “anwar” (anak warung).

Kutunggu mbak Arie di corolla DX-ku yang butut. T-shirt ungu dengan leher berbentuk “V” membuat belahan dadanya semakin nyata.

“Dik . . . aku pengen jalan-jalan aja, soalnya tadi aku udah makan di bis”, katanya sambil menutup pintu mobil. Akupun menyetujui permintaannya. Kukebut DX-ku ke bioskop terbaik di kotaku, kugandeng
tangannya yang halus, namun ia sempat berbisik 

“Dik , nanti kalau ketahuan temennya di Yanti gimana?”

“Lho, mbak Arie khan kakakku, cuek ajalah mbak, ntar aku yang tanggung jawab” jawabku sekenanya, sambil kurengkuh pundaknya untuk meyakinkan kesungguhanku. Kami kebagian film Armagedon di jam itu, yang sebetulnya aku pernah lihat di VCD. Tidak terlalu banyak penonton malam itu, bahkan
bisa dihitung dengan jari, kamipun bebas memilih tempat duduk, kubiarkan mbak Arie memilih tempat yang disukainya, nomor dua dari belakang dan paling pinggir. “Ah, kenapa kok tidak paling belakang” protesku dalam hati, namun tidak apa, dibelakang pun tak seorang pun duduk.

Dua puluh menit layar armagedon tengah berputar, kulihat mbak Arie tak bergerak sedikitpun. Kuremas jemari kirinya, tapi tidak ada respon yang hangat.

Kutatap wajahnya lekat-lekat, aah kasihan . . . mbak Arie tertidur, aku mengerti, perjalanan yang panjang membuatnya berat untuk menikmati film itu. Kukecup keningnya dan kurengkuh kepalanya dan kubiarkan ia tidur di pangkal lenganku.

Akupun tak bisa menahan hasrat untuk menciumi wajahnya.

“Mbak , kita pulang duluan yok” akupun membantunya berdiri dari tempat duduknya, kutuntun dia, karena kelihatan mbak Arie sudah tidak mampu membawa badannya. Kubiarkan ia teridur dalam perjalanan menuju kerumah.

Sengaja aku tidak membangunkannya sesampainya dirumah.

Kubuka pintu di garasi yang menghubungkan dengan ruang tengah. Terbayang di kepalaku untuk mengulang kenanganku yang lalu, kubopong dia untuk kupindah ke kamar tidurnya. Namun kali ini rupanya ia sempat terjaga dan melingkarkan tangannya ke leherku. Kubaringkan dia diranjang, aku
meneruskan dengan pijitan-pijitan ringan di kakinya.

Dari mata kaki sampai ke betisnya yang indah, aku berusaha untuk membuatnya nyaman , dan kelihatannya memang demikian. Tanganku semakin naik untuk membuatnya nyaman. Kupijit ringan pahanya yang mulus dan nyaris tanpa noda yang mengganggu. Kuangkat paha kirinya, untuk sekedar mengusap sisi bawahnya, tersingkap rok mininya keatas, terlihat CD wacoal kremnya yang rupanya
agak transparan, sehingga aku dapat dengan jelas isi didalamnya .

Kontolku tak terasa sudah mulai meradang di balik levi’s-ku yang ketat.

Kuusap memeknya yang masih terbungkus CD. Akupun tak bisa menahan hasrat untuk mengulang kenangan yang indah itu. Kulihat wajah mbak Arie yang sebentar-sebentar menelan ludah, ini seperti sinyal bagiku untuk melanjutkan rangsanganku.

Kuturunkan celana dalamnya, sekali lagi . . . kali ini aku tidak bisa lagi menyembunyikan rasa heranku, memek itu entah mengapa aku jadi terangsang hebat melihatnya seperti dulu.

Tanpa satupun bulu !!! montok dan . . . aaaah aku sulit untuk melukiskan disini. Aku sapukan bibirku lembut diatas belahan memeknya Kulanjutkan dengan menciumnya habis.

Kelentit-nya yang terangsang, seperti nya tidak kuasa lagi bersembunyi di lipatan memeknya, tersembul keluar dan aku langsung menghisapnya penuh nafsu.

” Aaah dik . . . oohh . . . eeeehhmmmmfffff” mulutnya mulai meracau. Agen Togel

Kadang aku gigit ringan bibir memeknya karena gemas. Lidahku bergerak liar menggelitik lobang memeknya, kuhisap kuusap cairannya yang membanjir keluar. ” Terus dik, teerrrrruuuussssss . . . . . aaaahhhhhhh” pinggulnya bergetar hebat, mbak Arie sudah pada klimaksnya yang pertama.

“Dik . . . buka punyamu dik”. Akupun mulai melepas risleting levi’sku.

Kuloloskan semua celana dan CD yang menghalangi kontolku tegak, rasa berdenyut-denyut di helm kontolku semakin menyiksa, namun aku belum berani melanjutkan lebih jauh. Sementara kulihat mbak Arie melepas t-shirt dan beha. Aku tak tahan segera menghisap putingnya yang tenggelam di bundar payudaranya, mbak Arie membusungkan dadanya untuk memudahkanku berbuat semaksimal mungkin.

Secara tidak sengaja ujung kontolku bergesekkan dengan pahanya, membuatku semakin gila menghisap
payudaranya. Mbak Arie hanya bisa menggigit ujung guling dengan mata yang terpejam rapat-rapat merasakan serangan-seranganku.

“Dik maassssukkan dik . . . punyamu dik” sambil memegang kepalaku dengan kedua tangannya . . . meminta. Entah . . . hatiku terharu mendengarnya, sambil kudekap aku membisikkan sesuatu ditelinyanya. “Mbak Arie . . .tahu akibatnya kalau ini terjadi”

“Dik, sebenarnya aku ingin yang dulu tidak terhenti, kali ini biarkan ini terjadi. Aku ingin rasa kangenku kamu isi”. Sekali lagi, mbak Arie aku dekap, dengan perasaan yang bercampur baur menjadi satu, antara rasa bersalah, haru dan . . . sayang. Aku tidak ingin membuat peristiwa ini sebagai bencana terhadap dirinya,

Namun dilain pihak aku juga tak ingin mengecewakannya. Kucium bibirnya, kali ini tidak saja nafsu yang menyelimuti perasaanku, tetapi juga sayang serta penebusan rasa bersalahku. Mbak Arie menyambut dengan hangat bibirku, kali ini kurasakan lain lumatan bibirnya. Dibuka perlahan-lahan kakinya, akupun menyambutnya dengan perlahan-lahan mengarahkan kontolku kelubang
rahimnya.

Namun aku merasakan, setiap usahaku untuk menekan masuk ke lobang itu selalu gagal. Sangat rapat dan kenyal sekali bibir memeknya, selain itu juga, mbak Arie masih perawan!. Aku melepaskan dekapanku, kuubah posisi mbak Arie melintang, dengan pinggul dibibir ranjang.

Kuangkat tinggi-tinggi kakinya, kujilati sekali lagi memeknya agar lebih licin untuk kumasuki. Kubuka lebar-lebar bibir memeknya dengan jari-jari kiriku. Woow . . . sejenak aku merasa tertegun dan ragu, akankah kejantananku bisa masuk keliang yang menurutku sangat kecil tersebut

Kupegang kontolku dengan tangan kananku. Dengan hati-hati perlahan-lahan ujung kontolku ku masukkan menerobos selaput keperawanannya.

” Dik, aaahhhhhh . . .terus, teerrrrrrusss aahhhhh !!”. Aku sudah tidak bisa mmelihat, apakah dia merasa kesakitan ataukah merasakan kenikmatan yang lain. Kulihat bibir kanan memeknya mengeluarkan darah, padahal baru separuh panjang kontolku menghujam lubang rahimnya. Kulihat mbak Arie tidak sabar untuk segera menelan bulat-bulat kontolku, ia mengayun bokongnya dan . . . blesss, habis sudah panjang kontolku masuk ke memeknya. Aku sengaja menahannya didalam, dan sedikit berusaha menggoyang-goyangkannya aku juga ingin dia merasakan kontolku mengisi ruang-ruang diliang vaginanya.

Helm kontolku terasa berdenyut-denyut nikmat, merasakan hangat yang sangat rapat menggigit. 

Kuciumi belakang telinganya, kulumat bibirnya. Kali ini mulai kuayun kontolku perlahan-lahan . . . aku sudah tidak lagi merasakan, ganas kukunya mencengkeram punggungku, kutambah irama ayunanku. 

Mbak Arie hanya bisa menggelepar-gelepar laksana ikan mencari air.

Kakinya mencekeram pinggangku, seakan tidak mau kontolku meninggalkan memeknya. Kuayun semakin cepat, rapat-nya lubang memeknya membuat aku kesetanan menghujamnya berkali-kali, mbak Arie sudah tidak bisa lagi menguasai gerakan tubuhnya. Akupun teringat, betapa keras dia menendang pundakku dulu. Mulutnya hanya mengeluarkan desisan-desisan tak beraturan.

Akhirnya aku sudah tak tahan untuk lebih lama menahan spermaku keluar.

Kucabut kontolku, aku ingin menumpahkan diluar. Tetapi cengkeraman kakinya membuatku kesulitan membebaskan kontolku. ” Ssssshhhhh mbak aku mau keluar !” . Direngkuhnya leherku, dengan terbata-bata dia membisikkan. “Dik, keluarkan di tempikku , keluarkan semuanya “.

Akupun sudah tak bisa menahan spermaku, kutanamkan dalam-dalam kontolku dan menyemburat spermaku. “Ooohhhhhhh dik , . . . . ennnnhhhhaaaaak dik”, kupeluk mbak Arie, kali ini kutumpahkan rasa sayangku semuanya, senyumnya mengembang manis, sambil membisikkan sesuatu di telingaku

“Sampaikan permintaan maaf untuk dik Yanti”, aku berjanji didalam hati
untuk menyampaikannya, walaupun dengan alasan yang lain tentu saja.